Pemuda Panaragan Meragukan Status Sastrawan Maryanto kasimo

17 views

Cyberlampung.com PANARAGAN – Seiring Dengan Pembangunan RTH di Simpang Tiga Gunung Tekuk Tiyuh Panaragan yang Hampir Selesai Pengerjaanya. Yang Sempat Menjadi Isu Hangat Para Tokoh Masyarakat Panaragan, Kini Muncul Pro dan Kontra Melalui Akun You tube Salah Seorang yang diduga Satrawan Lokal Menyebutkan Simpang Tiga Panaragan Dengan Bahasa “kerennya simpang monyet”.

Pernyataan blunder tersebut tentunya sangat disayangkan oleh semua pihak bahkan salah satu komentar datang dari seorang pemuda Panaragan, Prasaputra Sanjaya, S.I.P,.

“Sebab proses berdirinya RTH tersebut masih tersimpan PR warga masyarakat Panaragan terkait adanya wacana pembangunan Tugu Pertapaan yang dikehendaki oleh masyarakat Panaragan yang tentunya sangat erat kaitannya dengan makna filosofis dari kata Pana-raga,” ujarnya

Lanjut Putra, untuk itu kami mengharapkan kepada pemilik akun you tube presiden sastra tubaba maupun akun facebook Maryanto Kasimo kiranya dapat mengklarifikasikan lisannya ( Simpang Monyet ) di Balai Tiyuh Panaragan dengan disaksikan oleh Tokoh Adat dan segenap tokoh masyarakat Tiyuh Panaragan melalui konferensi pers.

“Artinya permintaan maaf melalui akun facebook merupakan tindakan yang bersifat sementara untuk meredam gejolak para netizen, sedangkan untuk permintaan maaf secara resmi tentunya harus tabayun ke tokoh adat maupun tokoh masyarakat Tiyuh Panaragan,” ungkapnya

Sebagai perwakilan pemuda Tiyuh Panaragan tentunya sangat mengecam keras atas ucapan yang disampaikan oleh oknum tersebut, mengingat Panaragan secara historis bukanlah sebatas nama Tiyuh, akan tetapi Panaragan merupakan nama Kecamatan yang saat ini telah berganti menjadi Kecamatan Tulang Bawang Tengah (1973/1974), sebagai induk dari seluruh Kecamatan yang ada di Kabupaten Tubaba (eks Kecamatan Panaragan).

Dilain sisi, Panaragan menyimpan kekayaan sejarah yang saat ini belum tergali secara maksimal. Oleh karenanya kami mengharapkan kepada oknum yang diduga sastrawan Tubaba, kiranya jangan latah melontarkan lisan yang tidak sesuai dengan fakta sejarah yang hidup dan berkembang dalam masyarakat, khususnya masyarakat yang ada di eks Kecamatan Panaragan. Apalagi kompetensi dalam bidang sastra pun masih kami ragukan.

Meskipun oknum tersebut memiliki niat baik untuk mempromosikan bangunan atau daerah Tubaba ke kancah yang lebih luas, setidaknya maryanto mempelajari terlebih dahulu asal muasal sebutan darimana keluarnya apakah yang memberi sebutan sudah kompeten untuk di percaya ucapanya,sejauh mana pengetahuanya tentang sejarah wilayah yang di kenal Tubaba ini. (Red)

Leave a Comment

Your email address will not be published.