Khoiri Rujungan : Simpang Tiga Gunung Tekuk, Kembalikan Kepada Sebutan Lama

16 views

Cyberlampung.com PANARAGAN – Setelah Sebuah Vidio Yang Menyebut Simpang Tiga Panaragan Dengan Sebutan Simpang Monyet Beredar Luas di tengah masyarakat, Tokoh Pemekaran Kabupaten Khoiri Rujungan Angkat Bicara, Dirinya meminta Kepada Pemerintah Daerah Untuk Dapat Mengembalikan Sebutan Simpang Tiga Gunung Tekuk Dikembali Kepada Sebutan Lama.

Menurut Khoiri Rujungan, jalan panaragan – menggala pada masa pemerintahan belanda tidak ada di simpang tiga tetapi lewat menggala mas. Sejak tahun 1919 jaman juru ukur bernama Yakub jalan panaragan di buka lewat gunung tekuk dan jalan ke gedung ratu itu lewat pinggir sungai.

Dengan maraknya transmigrasi pada tahun 1973 – 1974 baru ada kelancaran jalan transmigrasi melalui simpang tiga yang berada di puncak gunung tekuk sama dengan bawang tekuk ( rawa tekuk ). Gunung tekuk artinya pengumpulan sama dengan bawang tekuk yang ada di antara panaragan dan bandar dewa, sedangkan bandar dewa adalah pelabuhan pada masa hindu sebelum islam.

Mengapa orang berlabuh di bandar dewa dan tekuk, karena itu tempat pengumpulan orang untuk bertapa di Panaragan.

Berkaitan dengan hal tersebut,Khoiri Rujungan, yang salah satu putera daerah panaragan yang mengetahui sejarah adanya tiyuh panaragan mengatakan, perkataan Maryanto dalam vidionya haruslah jelas sebabnya Maryanto menyebutnya sebagai simpang monyet. Bahkan dirinya menganggap maryanto sebagai seorang yang senang mengamini apa yang dia dengar saja tanpa mencari tahu lebih jauh kebenaranya.

“Jelas Maryanto mengada-ada dengan mengatakan Simpang Tiyuh panaragan sebagai Simpang Monyet jadi saya ingin bertanya Maryanto kenapa menyebut tempat itu Simpang Monyet, karna tidak ada alasan menyebut simpang tiga tiyuh panaragan sebagai simpang Monyet,” ujar Khoiri Rujungan yang juga merupakan mantan DRPD Tuba Periode 1999-2004.

Masih khoiri rujungan, sejak belum masuknya transmigrasi kewilayah ini, simpang tiga panaragan sudah dikenal warga setempat sebagai simpang tiga gunung tekuk yang berhubungan dengan bawang tekuk ( rawa tekuk ) yang pada zaman dahulu kala tempat orang datang dan singgah untuk bertapa ke panaragan karena asal kata panaragan adalah penarag atau tempat pertapaan.

“Berkaitan dengan sebutan simpang tiga panaragan tersebut sebaiknya di kembalikan kepada sebutan lama sipang tiga gunung tekuk agar sejarah asal yang di warisi oleh nenek moyang panaragan tidak hilang di telan dongeng – dongeng yang belum jelas ceritanya,” tandasnya (Red)

Leave a Comment

Your email address will not be published.